NET
Ilustrasi
Keindahan dalam Hidup Nabi Muhammad
Jumat, 29 April 2011 19:21 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Walau telah banyak buku yang
menulis tentang sosok Nabi Muhammad Saw, namun kemurnian dan kejernihan
kualitas dan tata kramanya yang agung terus mengalir. Seri kehidupan
Rasulullah mengungkapkan kemuliaan sifatnya, keluhuran budi pekertinya,
dan keunggulan pribadinya. Dengan ini, orang-orang beriman dapat
memuaskan dahaga mereka spritual mereka dengan tekad untuk menjadi
manusia yang lebih baik.
Seiring dengan banyaknya tugas
mengiringi diutusnya para Nabi, ia juga membawa tugas untuk mengajarkan
orang tentang keindahan dan menghidupkan kembali indra dan kesadaran
itu. Sesungguhnya Allah SWT indah, Al-Qur'an yang mulia juga indah, dan
seluruh alam semesta indah. Rasulullah Saw, tidak diragukan lagi, adalah
orang terbaik dalam mengajarkan keindahan.
1. Keindahan senyum.
Ya, senyum adalah jenis keindahan yang unggul. Ini juga merupakan bahasa
universal manusia. Tersenyum berarti merasakan semua kegembiraan,
sukacita, dan kasih sayang terhadap manusia. Laksana sebuah lukisan,
senyuman adalah gambar indah.
Nabi Muhammad dikenal memiliki
wajah yang selalu tersenyum. Jarir ra berkata, "Rasulullah tidak pernah
menolak untuk melihat sejak saya memeluk Islam. Setiap kali beliau
melihat saya, beliau akan menemui saya dengan senyum." (HR Bukhari).
Nabi
tidak hanya menjaga senyum indah di wajahnya, namun juga mendorong
orang lain untuk tersenyum. "Senyum terhadap saudaramu adalah sedekah."
(HR At-Tirmidzi). "Jangan meremehkan setiap amal baik, bahkan jika itu
hanya pertemuan dengan saudaramu dengan wajah yang ceria." (HR Muslim).
2.
Keindahan penampilan. Nabi Saw selalu memakai pakaian terbaik yang
beliau miliki. Sebelum menemui para utusan, beliau akan mengenakan
pakaian yang sesuai dengan status dan tradisi masing-masing utusan.
Rasulullah juga suka parfum. Dari Aisyah," Aku selau memercikkan aroma
(farfum) terbaik kepada Nabi." (HR Muslim).
Nabi melarang setiap
orang yang makan bawang merah atau bawang putih masuk ke dalam masjid.
Beliau mendukung keindahan secara umum sebagai salah satu hal yang
dicintai Allah SWT. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, "Allah SWT
indah dan mencintai keindahan."
3. Keindahan sikap lembut. Nabi
diriwayatkan pernah bersabda, "Kelembutan tak dapat ditemukan pada apa
pun kecuali itu menambah keindahannya, dan tidak tercabut dari apa pun
kecuali bahwa itu membuatnya cacat" (HR Muslim). Jadi, kelembutan adalah
perhiasan dan keindahan, sedangkan kekerasan adalah suatu hal
keburukan. Nabi yang mulia melakukan semua urusan dengan kelembutan, dan
beliau mendesak diterapkannya kelembutan dalam semua urusan, baik
negara maupun pribadi.
Berikut contoh-contoh kelembutan yang menunjukkan budi pekerti beliau yang luar biasa:a)
Rasulullah akan mempercepat doa dalam shalat ketika mendengar tangis
bayi, dengan pertimbangan kecemasan sang ibu terhadap anaknya.
b)
Suatu ketika Rasulullah pernah menghentikan pergerakan pasukan karena
kepedulian terhadap seekor burung yang berduka karena anak-anaknya
ditangkap oleh beberapa tentara. Pasukan itu kembali bergerak maju
setelah tentara-tentara itu mengembalikan anak-anak burung kepada
induknya.
c) Beliau menghindari teguran langsun kepada umatnya.
Rasulullah lebih suka menegur dengan kata-kata halus seperti, "Bagaimana
dengan orang-orang yang merasa terlalu bangga untuk melakukan sesuatu
yang saya sendiri lakukan?"
d) Rasulullah memanjakan anak-anaknya
dan bercanda dengan mereka. Anas ra berkata, "Nabi Saw selalu berkumpul
dengan kami (anak-anak), kadang beliau berkata kepada adikku, 'Wahai
Ayah Umair, apa yang dilakukan burung-burung kecil ini?" (HR Bukhari).
e)
Nabi Muhammad mengizinkan rumahnya dijadikan sebagai tempat bermain.
Aisyah berkata, "Aku biasa bermain boneka di rumah Nabi, dan teman-teman
perempuanku juga biasa bermain denganku. Setiap kali Nabi masuk (ke
tempatku), mereka bersembunyi, tetapi Nabi selalu memanggil mereka untuk
bergabung dan bermain denganku." (HR Bukhari).
f) Rasulullah
pernah bersabda, "Jangan seorang pun dari kalian yang mengatakan,
''jiwaku menjadi jahat,' namun hendaknya mengatakan, 'jiwaku menjadi
kejam." (HR Bukhari-Muslim).
Menurut Ibnu Hajar, mengutip
Al-Khattabi, jahat dan kejam hampir sama dalam arti, namun Nabi tidak
menyukai kata sifat jahat dan memilih ekspresi yang lebih aman kejam.
Memang, ini adalah kebiasaan beliau untuk mengganti sebutan yang tidak
menyenangkan dengan yang lebih halus. Hadits ini menyiratkan bahwa kosa
kata yang tidak menyenangkan harus dihindari. Intinya adalah menghindari
ungkapan seperti "jiwaku menjadi jahat" adalah tindakan kelembutan
terhadap diri sendiri.
g) Rasulullah sangat menghormati
istri-istrinya dan memperlakukan mereka dengan lembut. Sebagai contoh,
beliau biasa menawarkan lututnya untuk diinjak istrinya (Safiyyah)
setiap kali Safiyyah ingin naik unta.
h) Nabi Saw kerap
berkhutbah tentang "kelembutan" Tuhan kepada manusia. Dalam sebuah
hadits beliau bersabda, "Ketika Allah telah menyelesaikan ciptaan-Nya,
Dia menulis di atas Arsy-nya, 'Belas kasih-Ku menguasai amarah-Ku." (HR
Bukhari-Muslim).
Masih mau jadi orang pemarah, pembenci,
pendongkol dan pendendam? Jangan, ah! Nabi tentu tidak suka umatnya
berlaku demikian. Semoga kita bisa mencontoh perilaku Rasulullah, walau
hanya sebagian kecil.