Tampilkan postingan dengan label kisah 2 insan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah 2 insan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2012

Sekali lagi tentang pembahasan akhwat! Hmm…

Diskusi ringan yang cukup menggelitik bersama bulatan gembira Litha saat itu. Seberkas pemikiran yang kadang terlintas di benak Litha ternyata dirasakan juga dengan teman-teman.
Seorang kawan berujar,
“ Jadi akhwat riweuh amat ya. Pakai jaket, kalau jilbab dimasukin dibilang mbentuk jadi jilbab leher. Tapi kalo jaketnya yang dimasukin ke jilbab, dipakai buat motoran malah mirip bendera (red: berkibar-kibar).”
Kawan lain berkata,
“ Hati-hati kalau naik motor, misal pas berhenti di lampu merah. Rok atau gamisnya bisa kesingkap, pake daleman celana panjang ya.”
Seorang kawan akhwat kalem tapi kritis abis, kalau nulis berkata,
“Risih tau ukht ngeliat akhwat, jilbabnya lebar tapi transparan.”
Bahkan ada yang cukup membuat Litha senyum simpul. Kala itu di kajian masjid kampus, saat sesi tanya jawab, seorang kawan dari spesies ikhwan bertanya dengan polosnya,
“Ustadz, kenapa sih para akhwat itu kalau pakai jilbab segi empat bagian depannya harus dimiringin, terus kenapa bros bunganya ditaruh di pinggir?”
“Haaaaa??? :shock: ” Reaksi Litha saat itu. Ya senyum geli tapi ya rada miris juga ^_^”
Sejauh pengamatan di lapangan dan berbagai analisis data varian maka Litha dapat menarik kesimpulan sebagai berikut #Demam.Script-Sweet (=
1. Sebaiknya saat naik motor baik nyetir atau diboncengin, pakai jaket.
Alasannya demi keamanan. Biar jilbabnya tidak mirip bendera, berkibar-kibar dan cepet kusut / tatanannya sudah ga rapih lagi. Pun semisal terpaksa saat itu tidak ada jaket, ya.. lebih baik jilbab dibuat sepinggang, biar bisa didudukin.
Manfaat lain buat kesehatan juga, biar bisa nahan angin. Berkendara pagi-pagi buta rawan terkena paru-paru basah apalagi jika jarak jauh. Angin kan gak kenal jauh deket. So, keep your healthy ya ukhty.. (=
2. Jaketnya pun yang longgar.
Insya Allah kalau jaket lembaga/organisasi untuk size akhwat biasanya longgar. Kalau adanya yang mini, jumper atau switer jankis sebisa mungkin jangan diretsliting. Biar ga mbentuk ya…
3. Gunakan daleman celana panjang.
Menggunakan rok atau gamis sewaktu naik motor rawan tersingkap. Apalagi untuk rok atau gamis yang beli jadi, biasanya lebar bawahkan terbatas. Amannya pakai celana panjang untuk dalemannya. Bukan celana legging, tapi yang katun atau celana bahan. Kenapa? Legging sama saja tetap mbentuk betis #danger! (=
4. Rok, celana panjang daleman ready! But you have to remember to using kaos kaki.
Jangan mengandalkan celana panjang saja, kaos kaki yang pendek juga rawan sewaktu naik motor. Kaki bagian bawah juga aurat kan ukht?
Ah iya! Saran saja :idea: bawa bekal perang kita selengkap mungkin. Biasanya Litha taruh kaos kaki cadangan & plastik di bagasi, jaga-jaga semisal hujan (=
5.Pemakaian jaket di dalam atau di luar jilbab.
Uhm.. pendapat Litha mah ditimbang baik-buruknya terkait hal tersebut. Ada beberapa kawan yang nyaman dengan menggunakan jaket di dalam jilbab. Sah-sah saja..
Don’t forget about the safety! Oke, contohnya begini… misal kita pake jaket di dalam, naik motor, nyetir dan ga bawa tas. Jilbabnya jadi bendera, resiko rambutnya keliatan kan? Pun misal kita yang diboncengin, ga sadar jilbabnya nutup lampu sein. Kan kasihan pengendara di belakang kita, tiba-tiba belok kanan, lampu seinsnya ketutup. Potensi kecelakaannya besar.
..dan Litha sering banget ngliat para akhwat jilbabnya nutupin ntu lampu :? Must be more carefully!
Contoh lain, bagi yang berkecimpung di dunia laboratorium. Kita kan pakai jas lab, nah jilbabnya harus kita masukin di dalem. Kenapa Litha katakan ‘harus’? Jika menggunakan alat dan bahan yang cukup riskan, semisal kita makai bunsen burner (red: lampu spirtus), jilbanya berkibar, nyamber api di bunsen bisa kebakar. Itu masih untung, misal percikannya ngenain cairan yang mudah meledak???!! Bahaya banget kan? Sebab kasus ini pernah terjadi, jilbab seorang al-ukht ini ga dimasukin dan nyamber api di bunsen. Oh Lord! Nah.. intinya mah disesuaikan situasi dan kondisi (=
Kebiasaan Litha kalau pakai jaket, di luar jilbab. Kalo jas almamater, jilbabnya yang ada di luar, almamaternya dimasukin (lebih nyaman seperti itu).
6. Tentang jilbab transparan…
Ada yang menggunakan istilah jilbab saringan tahu (= atau yang dikenal kebanyakan sebagai jilbab paris. Kelebihannya murah, ringan, mudah dicuci & disetrika, cepet kering kalo dijemur, mau dikreasiin sedimikian rupa sehingga gampang banget dan pilihan warnanya buaanyak jiddan! Ambil contoh jilbab paris biru banyak pilihan warna. Mulai dari biru tosca, biru turquoise, biru navy, biru benhur, biru dongker, biru muda, biru laut (ada yang asing dengan istilah warna tadi? ^_^ )
Jujur saja Litha bukan konsumen jilbab seperti ini. Karena kurang nyaman dan risih saja saat memakainya. Punya 1 jilbab paris ungu tua dan itupun hadiah. Kawan Litha nan kritis tadi berujar dengan status di jejaring sosialnya,
“Mungkin saya bukan termasuk akhwat yang memperhatikan penampilan. Mungkin juga penampilan ini sering gak matching. Namun sebagai seorang perempuan, entah kenapa saya merasa risih tatkala melihat seorang akhwat menggunakan jilbab paris meski itu lebar dan didobelin dengan jilbab segi empat di dalamnya.”
Dan kerennya banyak rekan ikhwan yang komen di status tersebut. Mulai blak-blakan, terkuaklah perasaan-perasaan mereka #apaan coba :P Jadi intinya mereka (red: spesies ikhwan tadi) juga merasa risih ketika melihat mba-mba dengan jilbab paris tersebut. Kadang tanpa sadar, jika dobelannya ga tebal, rambutnya bisa terlihat juga.
Seorang teman pernah bercerita, kenapa ikhwan kaku dan dingin ke para akhwat tapi cair ketika berinteraksi dengan teman sesama perempuan non aktivis? Kalo kesimpulan sementara Litha berdasar pengalaman dan pernyataan teman-teman, kadang mereka sangat mudah untuk mengalihkan pandangan tanpa melihatnya lagi dengan perempuan yang belum tertutup auratnya. Sebaliknya hal ini kadang tidak berlaku ketika melihat teman-teman yang sudah rapi berjilbab.
Para ikhwan dikaruniai sistem tata ruang yang subhanallah luar biasa. Sebagai bukti, ketika Litha SMA, pelajaran Matematika bab 3 Dimensi. Perlu waktu sepekan agar Litha benar-benar paham dan lancar melibas soal-soal tersebut. Tapi.. teman-teman kelas yang laki-laki cepat banget pahamnya, dibandingkan bab-bab selain itu. Jika minta tolong diajarin caranya seperti apa, dengan santai menjawab,
“Ya tinggal diginiin Lith, bayangin balok itu, bla.. bla.. bla..”
“Kok bisa?”
“Lha kan tinggal diputar balik.”
“Heh?! Kok ada putar balik segala, salah jalan?”
“ #*&%)*?:”
Dan teman Litha pun nyerah buat ngajarin, heuheu… :lol:
Jadi ya ukhty.. kalo Litha boleh berpendapat, mari kembali ke asalnya. Kita pakai jilbab niatan dan tujuannya buat apa. Biar matching? Untuk gaya-gayaan dengan berbagai jilbab kreatifnya? Biar cantik? Atau untuk menutup aurat?
Yuk cek lagi surat cintanya di Al-Ahzab 33: 59
7. Untuk pertanyaan saudaraku nan polos itu..
Nah,pertanyaan lucu dari ikhwan tersebut. Geli, tak pernah terlintas ada ikhwan yang nanya kenapa akhwat pakai jilbab biasanya di bagian depan dimiringin ke samping :D Tapi rada miris juga, sebegitu detailkah perhatian itu hingga tahu bahwa bros yang dipakai adalah bros bunga. Membayangkan saja kalau bros yang dipakai bentuk panda atau lope-lope :mrgreen: Sampai kawan saya bilang, “Apa ikhwannya ntu diajarin aja cara make jilbab segi empat?” Hehehe…
Jadi begini, rata-rata jilbab segi empat di pasaran ukuran 115×115 cm, 120×120 cm dan 150x150cm. Untuk ukuran 115×115 cm agar nyaman biasanya didobelin dengan jilbab polos (biasanya putih) di bagian dalem. Ngelipet segitiga ke dalem juga biasanya agak kecil, dengan harapan jilbab bisa lebar. Waktu dipenitiin ke depan jadinya nanggung, dibuat lurus juga maksa. Makanya biar rapi biasanya dibuat serong. Untuk lebih jelasnya berikut tutorial memakai jilbab dobelan agar hasilnya lebar.
#bagi saudaraku yang tanya tadi boleh dicoba di rumah ^^”
Kadang terlintas pikiran, tidak mudah memang menjadi seorang wanita. Dari bahasan ini saja, sepertinya perlu usaha ekstra untuk menutup aurat. Sejenak iri dengan para ikhwan, betapa fleksibelnya mereka dalam berpakaian. Hadist di atas pun secara tersurat menunjukkan kalau wanita adalah perhiasan. Yang namanya perhiasan pastilah indah; seperti hal yang nampaknya sederhana tadi –memakai jilbab namun bagian depan dimiringin ke samping dan brosnya di pinggir–.  Namun keindahan itu bila tidak tepat tempat dan waktunya akan berpotensi mengundang mudhorot. Sebegitu menarikkah seorang wanita itu hingga banyak ancaman bahwa penghuni neraka kebanyakan adalah para wanita. Istighfar…  Mari senantiasa berusaha memperbaiki kualitas diri. Demi terjaganya masing-masing pribadi, entah itu akhwat maupun ikhwan.
Last but not the least.. Wahai ukhty… dimanapun sekarang antuna berada. Mari senantiasa saling menjaga untuk perbaikan diri dari waktu ke waktu. Semoga setiap langkah kecil kita tidak menodai jilbab dengan anggunnya rinai hidayah yang telah dicurahkan oleh-Nya. Semoga setiap jalan yang telah disusuri mampu memperberat timbangan amal kebaikan kita. Hingga suatu saat nanti sang bidadari pun akan merasa cemburu padamu. Ingatlah, di balik kesusksesan orang-orang besar, senantiasa ada seorang wanita di belakangnya. Tidakkah antuna ingin menjadi wanita tersebut? Sungguh, yang tak ditebar takkan pernah pudar!
Wallahu a’lam bishowab

Kamis, 28 Juni 2012

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!


Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang  tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.
Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....
Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.
Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!


Muslimah  itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
....Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?....
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.
Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.
Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.
Wahai Ikhwan,
Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.
....luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....
Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Renungan Buat Ikhwan-Akhwat yang Berta'aruf di Dunia Maya

“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.
Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.
Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.
Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.
Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:
“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.
“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.
“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.
Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.
“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”
Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”
....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya....
Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.
Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.
Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Jumat, 08 Juni 2012

IKHWAN DAN AKHWAT SEJATI



ikhwan sejati

seorang remaja pria bertanya kepada ibunya, ''ibu,ceritakan kepada ku tentang ikhwan sejati...!!'' sang ibu tersenyum dan menjawab....

ikhwan sejati.... bukanlah d lihat dari bahunya yg kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya.

ikhwan sejati..... bukanlah di lihat dari suaranya yg lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.

ikhwan sejati.... bukanlah d lihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersaahabatnya pada generasi muda bangsa.

ikhwan sejati.... bukanlah di lihat dari bagaimana dia d hormati di tempat kerja, tetapi bagaimana dia di hormati di dalam rumah.

ikhwan sejati....bukanlah di lihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.

ikhwan sejati....bikanlah di lihat dari dadanya yg bidang, tetapi dari hati yg ada di balik itu.

ikhwan sejati.....bukanlah di lihat dari banyknya akhwat yg memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yg di cintainya.

ikhwan sejati....bukanlah di lihat dari jumlah barbel yg di bebankan, tetapi dari tabahanya dia menghadapi lika-liku kehidupan.

ikhwan sejati.....bukanlah di lihat dari kerasnya membaca al-qur'an, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yg dia baca.

setelah itu,sang remaja pria kembali bertanya.siapakah yg dapat memenuhi kriteria
sprt itu ibu?'' sang ibu memberinya buku dan berkata....pelajari tentang dia.
ia pun mengambil buku itu,"MUHAMMAD" judul buku yg tertulis d buku itu.


akhwat sejati.....

seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, '' abi ceritakan pada ku tentang akhwat sejati?''
sang ayah pun menoleh dan kembali kemudian tersenyum. anakku...seorang akhwat sejati bukanlah
di lihat dari kecantikkan paras wajahnya,tetapi di lihat dari kecantikan hati yg ada di baliknya.

akhwat sejati....bikanlah di lihat dari bentuk tubuhnya,tetapi di lihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari begitu banyaknya kebaikkan yg ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikkan itu.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi di lihat dari apa yg sering mulutnya bicarakan.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari keahliannya berbahasa, tetapi di lihat dari bagaimana caranya berbicara.

sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya. ''Lantas apalagi abi???'' sahut putrinya. ketahuilah putri ku.....

akhwat sejati.....bukanlah di lihat dari keberaniannya dlm berpakaian, tetapi di lihat sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

akhawat sejati....bukanlah di lihat dari kekhawatiran di goda orang di jalan, tetapi di lihat dari kekhawatiran dirinyalah yg mengundang orang jadi tergoda.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yg ia jalani, tetapi di lihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dgn penuh rasa syukur.

dan ingatlah.....akhwat sejati bukan di lihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi di lihat sejauh mana ia menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari besarnya jilbab yg dia pakai, tetapi dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.

akhwat sejati.....bukan hanya di lihat dari tertutup rapat tubuhnya, tetapi ketulusan hatinya menutupi aib saudaranya.

akhwat sejati......bukan di lihat dari lembut suaranya, tetapi kelembutan hatinya yg mudah menangis melihat kezholiman.

akhwat sejati.....bukan hanya di lihat dari manis senyumnya, tetapi manis hati yg peduli pada mereka yg membutuhkan.

akhwat sejati.....bukan di lihat dari tunduk pandangannya, tetapi juga semangat menundukkan musuh2 Allah.

setelah itu sang anak kembali bertanya, ''siapakah yg dapat menjadi kriteria sprt itu,abi???''
sang ayah memberikan sebuah buku dan berkata,''pelajarilah mereka!''
sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan'' ISTRI RASULULLAH'',(muslimah sholehah)


sudahkan kita menjadi bagian ikhwan dan akhwat sejati?????
mmmmmm.....menjadi bahan renungan pribadi...
Smoga semakin hari kita dapat menjadi ikhwan dan akhwat sejati yah teman2...a..min...IKHWAN DAN AKHWAT yang tentunya terbaik di mata Allah...sama2 saling mengingatkan yuk teman2..=)

Sabtu, 19 Mei 2012

Kode etik Ikhwan-Akhwat

Jalan2 keliling2 dunia (kampus) memang menyenangkan,,,
bertemu dengan teman, sahabat baik akhwat maupun yang ikhwan....
Bahkan saat syuro’pun menyenangkan :D

Pagi syuro, siang syuro, sore syuro, malem syuro, jadi mansyur (manusia syuro) dong !.
Syuro terus kapan actionnya?.
Syuro-syuro bergembira !
Syuting (Syuro penting).

EEEiiiitttssss....
jangan sampai kebablasan lho yyyyaaaa.....

Koordinasi ataupun kominikasi untuk saat ini memang bukan hal yang sulit, apalagi dengan seiring perkembangan teknologi. Coba saja bayangkan, yang dulunya saat kita perlu berkomunikasi, saat kita perlu koordinasi kita haruslah bertemu dalam forum (baca : syuro), maka sekarang dengan ataupun tanpa forum kita sudah bisa melakukan komunikasi/koordinasi baik melalui HP (entah telpon atau sms) maupun via internet (e-mail/chatting). Bahkan temenQ hampir berlama2 diwarnet (baca : warung internet) hanya karena diminta kedept.nya untuk syuro via chatting, tp akhirnya tidak jadi karena takut pulang terlalu malam X). sehingga tidak ada alasan untuk tidak bisa berkoordinasi  ataupun sampai miss komunikasi.

Namun tiap kemudahan pasti ada cobaan dibalik itu semua. Nah… salah satu cobaan yang ditimbulkan adalah timbulnya benih-benih ketertarikan yang mulai direalisasikan dalam komunikasi diantara keduanya (putra-putri red). Gimana tidak!!! Karena dengan komunikasi via Hp ataupun internet maka kita akan bisa berkoordinasi berduaan secara privat tanpa ada yang tahu kecuali yang bersangkutan dan Allah SWT. Tentunya kita masih ingat hadist berikut:

“ Tidak boleh berduaan duitempat sunyi seorang laki-laki diantaramu dengan seseorang wanita kecuali wanita itu bersama muhrimnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Telah ditentukan bagi manusia nasibnya dengan perzinahan yang akan diterima olehnya dengan pasti yaotu : Dua mata perzinaannya dengan cara  melihat  (yang maksiat). Dua telinga perzinaanyan dengan cara mendengarkannya. Lidah (ucapan) perzinaannya dengan cara mencakapkannya. Tangan keduanya perzinaannya dengan cara merabanya. Kaki perzinaannya dengan cra melangkah padanya. Hati perzinaannya dengan cara menarik dan bercita-cita  padanya, yang kemudian dibenarkan kelaminnya atau menolaknya.” (HR.Bukhari-Muslim)
 Masih inget tidak dengan pepatah jawa yang bilang,“Tresno jalaran sokoo kulino (suka datangnya dari kebiasaan)”, atau yang bilang “dari mata turun kehati”. Mungkin kalimat-kaimat itu sangat sering kita dengan atau malah hal itu biasa saja terjadi bahkan yang mengalaminya seorang aktifis dakwah sekalipun. Saudaraku, untuk menjaga diri kita dari mendekati perbuatan yang menjadi penghambat jalan dakwah maka terbentuklah sebuah etika koordinasi yang diharapkan dapat menghasilkan maslahat yang banyak.
Wwweeeee….
opo ae ya iitu…
ngintip yukkk…!!!
Dalam pelaksanaan Syuro’:
  • Terlaksana jika minimal dihadiri oleh 2 putra dan 2 putri
  • Semua peserta mengetahui agenda syuro
  • Memperhatikan adab-adab syuro’, diantaranya : pembukaan, tilawah (oleh ikhwan), agenda syuro dan pembahasan, kesimpulan, taujih, penutup dengan do’a penutup majelis
  • adanya hijab
    hijab
     Syuro tanpa hijab (tetap dipisah ikhwan akhwat):
    Kelebihannya :
    - Dapat mengetahui rekan yang lainnya.
    - Sedapat mungkin bisa serius, soalnya segala gerak-geriknya terlihat.
    Kekurangannya :
    Kurang syar’i
    Cukup besar godaannya untuk bisa jaga pandangan.
    Akhwat terkadang susah ngomong. Mungkin karena malu. Ada tipe yang seperti itu.
    CATATAN :
    Syuro tanpa hijab itu lebih tepat dilakukan ketika jumlah kuotanya banyak, dan belum pernah melihat antara satu dengan yang lainnya. Untuk syuro selanjutnya harus diusahakan dengan hijab.
    :: Syuro dengan hijab (otomatis dipisah ikhwan akhwat) :
    Kelebihannya :
    Syar’i
    Pandangan lebih terjaga
    Bebas berbicara.
    Lebih fokus.
    Materi yang dibahas terarah.
    Kekurangannya :
    Tidak tahu apa yang dilakukan oleh rekan yang lainnya. Antara ikhwan dan akhwat. Bisa jadi ketika ada ikhwan yang tilawah, ada akhwat yang sibuk dengan smsnya, bahkan ada yang tidur.
    Belum mengenal antara rekan yang lain. Dalam hal fisik (wajahnya).
    CATATAN :
    Syuro dengan hijab dilakukan ketika minimal sudah tahu nama dan juga wajah rekan yang lain. Ini tentunya akan lebih baik, karena akan lebih terjaga dan tidak terbayang-bayang. Wah…suaranya merdu…orangnya kayak apa ya?. Biar bisa konsen. Dan lebih menjaga, lebih-lebih untuk suara akhwat. Dilakukan setelah syuro tanpa hijab (kalau kuotanya banyak).
    Pernah ada yang bilang, ” Ga papa syuro tanpa hijab. Yang penting kan bisa jaga hati. ” Meskipun begitu, kita tidak bisa menafikkan bahwa syetan itu terus mengintai kita. Sering kita dengar ” Dari mata turun ke hati.” Syuro tanpa hijab bisa jadi jalan kesana. Syetan bisa saja membisikkan sesuatu, entah itu keinginan untuk nglirik, mendayu-dayukan suara, dan lain-lain.
    Alangkah baiknya ketika syuro itu dihiasi oleh hijab (hati), dan hijab secara nyata (asal jangan asal-asalan, transparan).
    :: Yang terakhir, syuro sebaiknya :
    Sebelumnya, tempat, tanggal, hari, waktu, agenda harus jelas (di undangannya).
    Ada hijab.
    Dimulakan dengan bismillah.
    Ada taujih/ nasihat untuk mengingatkan untuk diri sendiri dan semuanya. Ayat-ayat cinta Allah (Al Qur’an) lebih bagus ^^.
    ada agenda.
    ditentukan waktunya. Mulai dan berakhirnya. Proporsional dan profesional
    Tidak banyak bercanda.
    Fokus.
    Diakhiri dengan review hasil syuro, dan membaca hamdalah.
  • Tidak banyak bercanda,mohon berhati-hati dalam bercanda
  • Gunakan intonasi bahasa yang tegas dan jelas (terutama putri)
  • Syuro’lah dengan iklas, cepat dan tuntas
Koordinasi di lapangan/kegiatan (diluar forum):
  • Tidak bertemu kecuali  mendesak dan penting
  • Minimal ada 2 putra dan 2 putri
  • Menjaga hati, benarkan niat dan jaga pandangan
Koordinasi Via telepon:
  • Peesiapkan hal-hal yang akan disampaikan ketika akan komunikasi
  • Bicarakan hal-hal yang pokok dan penting, jangan disertai dengan pendahuluan yang tidak ada hubungannnya dengan inti pembicaraan
  • Menggunakan intonasi bahasa yang jelas dan lugas
  • Komunikasi maksimal jam 21.00 WIB (malam hari)
  • Komunikasi pagi paling awal pukul 05.30 WIB
  • Durasi telepon maksimal 15 menit
  • Bersihkan niat
Koordinasi Via SMS :
  • Gunakan bahsa yang resmi, mudah diterima, informative, padat dan jelas
  • Tidak disertai dengan pendahuluan yang tidak ada hubungannya dengan inti pesan
  • Tidak menggunakan symbol-simbol gaul misal :D, ^_^
  • Info syuro’ disertai dengan agenda
  • Sms taujih tidak dikhususkan ke orang-orang tertentu.
Saudaraku, etika tersebut memang hanyalah sebuah catatan dari kami yang mungkin perlu kita sama-sama perhatikan. Saling mengingatkan adalah kunci utama agar jangan samapai jalan dakwah ini menjadi terhambat atau bahkan mundur karena dosa-dosa kecil yang dilakukan oleh para penggerak dakwahnya sendiri. Kami bermaksud untuk mencegah terjadinya penyakit antar aktifis. Dan jika memang sudah terjangkiti oleh penyakit tersebut kami berharap bisa segera sembuh. Dan bagi yang belum semoga ini menjadi acuan untuk terus meningkatkan ketakwaan dan mengoreksi diri. Semoga ini bisa menjaga fitrah kita sebagai manusia. Maka sabda nabi :” bila tidak ada rasa malu berbuatlah sesukamu.” Wallahu ‘alaam 
http://aisyahrqurrotaain.blogspot.com/2011/04/kode-etik-ikhwan-akhwat.html

Akhwat sejati idaman Ikhwan



Alkisah, seorang santri putra sedang bersegera menemui Ustadznya. Dia bertanya pada sang Ustadz, "Ustadz, tolong ceritakan kepadaku tentang akhwat sejati.."

Sang Ustadz pun tersenyum teduh dan menjawab,
"Akhi, akhwat sejati dilihat tidak semata dari sekedar jilbabnya ataupun jubahnya yang lebar, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghadhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian agamanya..

Akhwat sejati tidak dinilai dari kelembutan suaranya semata, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan lelaki yang bukan mahramnya, sekalipun kebenaran itu mungkin menyakiti perasaannya sendiri.

Ia, akhwat sejati, tidak bisa kau nilai dari berapa banyak sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak-anaknya, keluarga dekatnya, para tetangga, serta orang-orang di sekitarnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang lezat, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan keluarganya dan mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami

Kecerdasan akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa cepat ia meraih gelar sarjana, namun dari kemampuannya mengatur finansial keluarga dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Jangan pernah kau menilai kecantikan sang akhwat hanya dari wajahnya yang cantik atau penampilan luarnya yang menarik. Kecantikan akhwat sejati bisa kau lihat dari bagaimana ia tersenyum tulus pada orang-orang yang ia cintai tanpa sebuah pemaksaan.

Komitmen sang akhwat sejati tidak bisa dinilai dari berapa banyak ia menolak lelaki yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari seberapa komitmennya untuk mengatakan, Tidak ada kata CINTA sebelum menikah.

Ingatlah akhi, kekuatan akhwat sejati bukanlah dilihat dari jumlah sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya, bukan pula prestasi olahraganya. Kekuatan akhwat sejati dilihat dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan dunia.

Pemahaman akhwat sejati tentang Al Quran dilihat tidak hanya dari dari berapa banyak ia hafal Al-Quran, tapi lebih kepada pengamalan atas apa yang ia baca dan hafalkan dalam Al Quran dalam kehidupan sehari-harinya."

Jawaban dari sang Ustadz perlahan ia cerna, namun jawaban itu ternyata belum memuaskan rasa ingin tahunya, sehingga sang murid kembali bertanya, "Ustadz, adakah akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu?".

Sang Ustadz yang paham akan rasa ingin tahu muridnya kembali tersenyum teduh dan berkata, "Akhi, Akhwat-akhwat seperti itu memang ada, tapi amatlah langka. Sekalipun ada, biasanya mereka memiliki karakter khas atau ciri-ciri antara lain;

Mereka sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta tidak lepas dari memberikan kebaikan, setidaknya pada lingkungannya sendiri.

Ia tidak ingin dikenal, kecuali diminta atau didesak oleh masyarakat sekitarnya. Ia berasal dari keturunan orang-orang yang shalih atau shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amal ibadah harian, mingguan dan bulanan lebih dari orang-orang kebanyakan.

Hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati. Berbakti terhadap orang tua, hormat kepada yang lebih tua dan sayang terhadap yang lebih muda, disiplin dengan sholat wajibunya, sering berpuasa sunnah dan qiyamullail, dan bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang-orang yang mengenalnya.

Ia rajin berdzikir dan beristighfar, rajin mendoakan saudara-saudaranya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara nyata ataupun tersembunyi. Ia, akhwat sejati, rajin bersilaturahmi dan senantiasa berdedikasi dalam menuntut ilmu.

Akhwat sejati, ia senantiasa menambah dan memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca atau menghafal Al Quran atau hadits dan buku-buku yang bermanfaat, pintar atau kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Akhwat sejati memiliki perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin bila bersangkutan dengan bersuci. Ia terjaga dan senantiasa menjaga diri dari berdua-duaan, tidak memiliki kesenangan terhadap bergunjing pada orang lain.

Bagi akhwat sejati, menjaga pikiran, lisan dan semua perbuatan sehingga terjauhkan dari perbuatan yang sia-sia adalah sebuah kewajiban. Ia senantiasa menerima keadaan dan pasrah, serta menjaga hatinya dari bersedih hati yang terlarut-larut.

Akhwat sejati pandai menghibur dan pandai menutupi aib atau kekurangan dirinya dan orang-orang yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan atau kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfaq, ikhlas, jauh dari riya, takabur, dan sifat-sifat tercela."

Jawaban dari sang Ustadz ternyata masih menyisakan rasa penasaran sang murid, sehingga bertanyalah lagi dia kepada Ustadz. “Ustadz, adakah cara untuk mendapatkannya? Atau setidak-tidaknya bisa mendapatkan seorang akhwat yang mendekati profil akhwat sejati?

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan akhwat sejati dan benar-benar shalihah sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRIMU!! karena Insya Allah akhwat yang shalihah adalah pada dasarnya juga untuk ikhwan yang shalih...“


"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (QS. An Nuur: 2)
http://mujahidahsyahidfisabilillah.blogspot.com/2011/02/akhwat-sejati-idaman-ikhwan.html

duh jaga hijab dong mba mas :)




“Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?”,tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

“Duh… ngeri, lihat itu… ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat……,” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.
“Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” tanya seorang akhwat penuh keheranan.
Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:
1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.
2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.
3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.
4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.
Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.
Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah panggilan persaudaraan. ‘Ikhwan’ artinya adalah saudara laki-laki, dan ‘akhwat’ adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-‘ikhwanan’-nya atau ke-‘akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.
Aktivis sekuler tak lagi segan
Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, ”Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi.”
Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.
Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat
Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:
 1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil/ kendaraan umum. Berdua saja.
2. Rapat Berhadap-Hadapan
 Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya  bila belum mampu menggunakan hijab dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.
3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
4. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
5. “Men-take” Untuk Menikah
“Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-take’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan dan rentan terhadap perbuatan dosa lebih lanjut.
6. Telpon Tidak Urgen
 Menelpon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
7. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.
8. Berbicara Mendayu-Dayu
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh…..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.
9. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM ataupun BBM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
10. Curhat
“Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, akh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.
11. Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.
12. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.
Dalil untuk nomor 1-5:
a. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)
b. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 30)
c. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 31)
d. Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”
e.Rasulullah saw. Bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu.” (HR Ahmad)
Dalil untuk nomor 6-12:  ”… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya...” (Al Ahzab: 32)
Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan) , tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.
Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).
Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina. Jagalah hatimu juga jagalah saudarimu dari dosa yang menjerumuskan ke dalam api neraka.
“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah… “
Waspadalah..waspadalah..
(dikuti dari www.myquran.com)
http://yusvazalea.wordpress.com/2012/02/25/duh-jaga-hijab-dong-mba-mas-refleksi/

Mengharap Ridho الله swt.

keindahan yang tersimpan dalam Ta'aruf

undefined undefined
Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.

Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, berikut pengalaman penulis 14 tahun lalu yaitu :

1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.

2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.

3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.

4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.

5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.

6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.

7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.

Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.

Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..

Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin.
http://bidadari-bermata-bening.blogspot.com/2010/07/keindahan-yang-tersimpan-dalam-taaruf.html

Menikah

Menikah? wah satu kata ini pasti yang paling dirindukan oleh para akhwat yang mendengarnya…(ikhwan juga tentunya), tapi disini saya hanya ingin mengetengahkan tema menarik ini terutama untuk para calon isteri saja… Kok gitu? absolutely yes, since I am a wife so I will tell you what the wives use to deal with..

Jadi begini akhwat sekalian yang sangat penasaran dengan ‘gimana sih dunia pernikahan itu?’

Let me tell you dear sis… menikah tuh nggak cuma melulu soal cinta-cinta, bermesraan, bunga-bunga, dan hal indah-indah semacamnya. Oke kita yang udah menikah juga nggak menafikan betapa berharganya anugerah Allah berupa cinta dan kasih sayang ini.

Bayangin, kita yang dulu cuma berakrab-akrab ria dengan teman perempuan yang lain, bercanda ria, saling curhat hanya dengan sesama sahabat putri (catet ya: ini bagi kami yang nggak kenal pacaran lho..), lalu tiba-tiba ada ‘makhluk’ lain didepan kita, makhluk yang sebelumnya nggak kita kenal, yang jika ketemu aja kita nggak mau lihat wajahnya karena takut kena fitnah, dan bahkan makhluk yang telapak kaki kitapun tak mau kita perlihatkan kepadanya (karena itulah yang dituntunkan syariat), then suddenly..setelah menikah semua itu nggak berlaku lagi kan…

Nah, ternyata akhwatifillah, dalam bingkai pernikahan memang Allah telah menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram, kita mau bikin cerita cinta seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan bunda Aisyah…, kejar-kejaran dengan dia ditaman bunga gitu, ya tentu aja boleh.

Ya itulah karunia Allah kepada sepasang laki-laki dan wanita yang disatukan dalam tali pernikahan. Lha kalo yang belum nikah kayak begitu (yang orang sekarang bilang pacaran) itu namanya menentang larangan Allah, karena Allah telah berfirman,

“Dan janganlah kamu dekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)
Sementara orang yang pacaran tentu saja mendekati zina (memandang, menyentuh, mencium, dll) dan bahkan banyak yang jatuh kepada zina itu sendiri, naudzubillah min dzalik. Ingat kan sebuah hadist dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tentang kisah beliau ketika di isra’ mi’rajkan dimana beliau melihat sebuah tempat yang mirip tungku yang besar dimana ada pria dan wanita telanjang disana dan dinyalakan api dari bawah tungku tersebut, ketika Nabi bertanya kepada malaikat yang membawa beliau, ia menjawab bahwa mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berzina di dunia.
Baiklah kembali kepada tema, jadi menikah nggak melulu soal cinta, namun ada hal besar lainnya disana ya ukhty,..Setelah menikah, maka kita memasuki kehidupan yang lain dari sebelumnya, ibarat anak SD yang mau masuk SMP, maka akan ada peningkatan ilmu yang berbeda yang harus kita jalani. Dan disinilah kita akan memahami (benar-benar memahami) apa yang dimaksudkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka…”(QS. An Nisa : 34)

dan juga sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam,
“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Hadits Riwayat Ibn Majah)
know why?

karena kita nggak hidup sendiri lagi ukhty, kita punya seseorang yang harus kita urus dari bangun tidur hingga mau tidur lagi.
Jika sebelum menikah, mau makan kita tinggal makan, mau pergi keluar tinggal keluar (jika tinggal dengan orang tua harus ijin mereka dulu), mau ngobrol sama teman sepuasnya tinggal ngobrol, mau ambil keputusan tinggal ambil, mau tidur tinggal tidur, mau nggak mandi seharian juga nggak ada yang negur, mau pake baju lusuh dirumah juga biarin.
Namun semua itu lain keadaannya jika kita telah menikah (dan bila kita ingin menjadi isteri yang salihah yang balasannya adalah Jannah).
Mau tak mau kita harus tinggalkan kebiasaan lama dulu dan mesti dirubah, karena…
Disana akan ada seseorang yang harus kita siapkan makanan ketika tiba waktu makan
ada seseorang yang harus kita siapkan bajunya untuk dicuci, disetrika,
Ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita mau keluar,
ada seseorang yang harus kita hormati dan ikuti keputusannya walaupun tidak sreg dengan ego kita,
ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita akan membelanjakan uang (kecuali jika itu uang penghasilan kita sendiri),
dan ada seseorang yang harus kita utamakan dari orang lain disekitar kita (misal kalau ada suami disamping kita jangan keenakan ngobrol ngalur-ngidul di telefon dengan teman lama, sedangkan suami dicuekin),
ada seseorang yang didepannya kita harus hadirkan penampilan yang terbaik, perhatikan dandanan dan wewangian (Peringatan: cuma dipakai didepan suami lho, not for public consumption!)

Duhai Akhwat_Ikhwan




Duhai akhwat idaman, dimanakah kau kini berada? Aneh, mengapa kini aku terlalu sering menemukanmu dimana-mana, apakah kau tak lagi menjadi idaman para pengidam kesucian, tak lagi special, bak bidadari syurga yang hadir di bumi, tak pernah tersentuh jin dan manusia.

Tak kubayang, akhwatku hilang, tak lekang, dimakan jaman yang garang. Dulu kau tak terlihat, tapi aku tak perlu mencari-cari dirimu. Karena aku yakin kau ada, seperti keyakinanku beriman kepada yang ghoib. Semakin ghoib, semakin indah, semakin beriman. Wuih. Subahanallah.

Tapi kini kau tak lagi ghoib, kau begitu menyebar, kau begitu visual, kau begitu obral, sehingga justru aku kehilanganmu di antara kerumunanmu. Terlihat tapi tak terlihat, tak terlihat justru terlihat.

Duhai akhwatku, yang cantik menawan iman. Ketahuilah bahwa semakin ghoib dirimu maka semakin besar energi dirimu, sehingga semakin besar kualitas keakhwatanmu, maka semakin aku merindukanmu. Kami menyayangimu. Sayang sekali jika kau tak menyayangi dirimu sendiri lagi; dalam kekhawatiranmu yang berlebihan pada Tuhan.

Ku tahu kau berhijab dalam hizibmu. Tapi mengapa harus kau lupakan inti perjuanganmu, apakah karena hizibmu tidak lagi tegas padamu. Apakah identitasmu harus bergantung pada identitas hizibmu yang mulai teragu?

Ku yakin, kau tahu bahwa kau bagai perhiasan di mata ikhwan atau kawan. Dan karakter dari perhiasan adalah butuhnya sebuah atau banyak perhatian. Yang memperhatikan nikmat, yang diperhatikan bahagia. Dan biasanya perhiasan eksklusif berkarakter : diam, tersembunyi, dijaga ketat, personal & privacy, dan hanya orang-orang yang sudah menunaikan akad “jual beli” yang boleh memakainya. Kecuali perhiasan murahan, tak perlu akad spesial pun sudah bisa dipakai siapapun …. lalu menjadi manusia terbuang…na’udzubillahi min dzalik.

Duhai akhwat budiman kekasih ikhwan beriman, perhatikanlah bahwa kau adalah perhiasan terindah. Bisakah kau bayangkan, bahwa perhiasan itu “diam”nya saja sudah indah dan menggoda. Maka apa yang terjadi jika engkau pun bergerak – kesana kemari- sehingga mata ikhwan memandangmu, sengaja tidak sengaja, sebab syaitan itu cerdas dan waras. Sedangkan ikhwan itu cerdas tapi terbatas. Karena ikhwan itu terbatas, maka kau harus membatasi diri dari pandangannya, agar syaitan usahanya pun terbatas menggoda manusia beriman, akhwat dan ikhwan.

Kuharap kau lebih banyak diam yang penuh gerakan, daripada gerakan yang membuat ikhwan terdiam. Pahamkah maksudku? Kau begitu indah untuk tidak diperhatikan, perhiasan itu begitu banyak yang memperhatikan, kadang saling bersaing antara satu perhaiasan dengan perhiasan lainnya, bersaing untuk diperhatikan… tentu saja karena adanya perhatian. Perhatian hadir karena adanya sumber perhatian dan adanya yang memperhatikan.

Fokus dakwah pun kadang berubah, bahasan bab menikah dan poligami lebih menjadi perhatian daripada bagaimana cara memperjuangkan dakwah ini, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Ilahi Robbi?

Duhai akhwat, kau bukan syahwat; ku tak menyalahkanmu, tapi marilah mulai hari ini sama-sama kita mengambil porsi yang tidak melampaui suci. Sebab akhwat itu wanita, dan wanita itu makhluk indah sejati yang penuh perasaan, maka perlu diberikan banyak batasan. Agar perasaannya tidak meluap dan tumpah di sembarang nyawa. Jika satu atau dua batasan sudah mulai dianggap tak membatasi, maka berkhawatir dirilah jika engkau kesulitan mengontrol perasaanmu yang agung itu….

Wahai akhwat sejati, bukanlah karena cantikmu engkau diperhatikan, tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Berterimakasihlah kepada orang-orang yang memperhatikanmu, dan bersyukurlah kepada Allah agar DIA tetap memperhatikanmu. Kalau Allah yang memperhatikanmu, maka para ikhwan beriman pun insya Allah tak sungkan tuk memperhatikanmu. Tapi kalau perhatian manusia yang engkau kejar, maka kemanakah kau tempatkan perhatian Tuhanmu, dari hatimu yang agung, wahai calon ibu, wanita yang paling perhatian….dan butuh perhatian. Harus diperhatikan.

"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". { Q.S. Al-Insyiroh (94) : 8} http://alohaazahr.blogspot.com/2012/02/duhai-akhwatikhwan.html

Sabtu, 14 April 2012

" Jika "

http://willyikhwan.blogspot.com/2012/01/jika.html
Ukhty….

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu mendekatimu,apa kau tidak merasa takut terjerat padaku???

*Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu dengan genit menggodamu,apa kau tidak merasa risih pada kegenitanku ???

*Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa segan merayumu, apakah kau terbuai oleh bujuk rayuku???

*Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tak bisa menjaga izzah ketika berdekatan denganmu, apakah kau tidak bisa menolakku dengan perisai malumu???

*Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa merasa berdosa berani menyentuhmu, apakah kau tidak takut Allah murka padamu, masihkah kau percaya pada ucapanku?

tak curigakah kau padaku?

Tak inginkah kau menjauhiku???
atau karena kau telah terjebak ke dalam jurang cinta nafsu, sehingga kau tak mampu menolakku meski kau tau semua ucapanku ” Mencintaimu Karena Allah” adalah palsu.

Ketahuilah ukhty…

Jika aku seorang ikhwan sejati Yang mencintaimu karena Allah.. Aku tidak akan berani menyentuhmu ,bahkan hatimu sekalipun… Karena aku malu pada Allah jika bayanganku mengacaukan kekhusuk’an ibadahmu…

*Jika aku seorang ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah, aku tidak akan pernah berani merayumu, menggodamu, bahkan dengan bebas tanpa batas berinteraksi denganmu.. Karena kau belumlah halal bagiku. Aku malu jika harus membuatmu lebih banyak mengingatku dari pada mengingat-Nya. Aku malu jika harus menjadi seseorang yang membuat-Nya cemburu padamu karena kau rela melanggar larangan-larangan-Nya karena cintmu padaku.

*Jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah aku tidak akan khawatir tidak dapat memilikimu karena tak mengungkapkan cintaku padamu sekarang meski saat ini aku begitu mengagumimu dan menginginkanmu menjadi bidadariku. Karena aku yakin jika engkau memang di takdirkan untukku ,engkau pasti akan menjadi milikku meski aku tak mengikatmu.. Bukankah jika Allah tidak mentakdirkan kita bersama di ikatpun pasti akan terlepas juga akhirnya???
Jadi untuk apa aku risau???

*Ukhty…

Sadarlah… Jika aku seorang Ikhwan yang benar-benar mencintaimu karena Allah, aku hanya akan berani merayumu, menggodamu, dan menyentuhmu setelah engku telah halal bagiku.

*Untuk semua muslimah.. Ukhty , Tetaplah Berusaha Menjadi Shalihah Meski Zaman Telah Berubah….Barokallahu fiik ^_

ketika ikhwah jatuh cinta - akhwat berbicara

http://auliyaa.blogdetik.com/2009/01/23/ketika-ikhwah-jatuh-cinta-akhwat-berbicara/

Artikel yang menurut saya lumayan bagus. Meski temanya klasik tapi menarik untuk dibaca karena dari sudut pandang akhwat dan bisa jadi renungan kita. Yah.. selama ini kan akhwat cenderung diam kalo udah masuk ke wilayah cinta. Di saat makin banyaknya aktivis-aktivis dakwah yang sudah kebablasan dalam hal cinta. Menjajakan cinta atas nama dakwah. (afwan Sebenarnya rada sarkas juga sih pemilihan katanya, tapi mesti gimana lagi penggambarannya? susah klo mo pake istilah laen, lagian kita sering nggak ngeh kalo penyebutannya terlalu biasa).
Soalnya kebanyakan (saya nggak bilang semua lho…,) aktivis dakwah sering TP TP sama lawan jenisnya. Itu bisa dilihat ketika dia sering TP TP lewat fasihnya kata-kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasihat, lewat merdunya suara, dkk. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng jadinya, sayang banget khan? Mungkin dan sangat bisa jadi kita pengumbar nafsu. Wah gimana donk?! Maunya show amal dengan fatwa-fatwa agama ke orang lain, eh gak taunya nyari muka, aduuuh sayang banget yak?! Maunya sih kasih comment di FS dengan taushiyah,nggak taunya??? Biar dianggep paling mantep ruhiyahnya.
Hohoho… ini kenyataan lho.. saya sering iseng2 chek comment2 FS “aktivis dakwah”.. yaahh.. lihat aja dari fotonya.. biasanya siy yang ikhwan kalo nggak tampang sholehnya yang dipajang yaa.. gambar mujahid Palestine, atau orang pake sorban (kafiyeh) dengan muka sebagian ditutup. Liat dari gambarnya siy waah.. subhanallah… Militan negh kayaknya! profilenya juga.. mulai dari puisi tentang dakwah, aktiivitasnya dakwahnya yang segambreng, sampe kata-kata mutiara yang bisa bangkitin ghiroh! Tapi pas liat commentnya… hihi… rata2 yang ngisi akhwat.. dengan kata-kata romantis pula..Beberapa contohnya,
“syukron akhi atas tausyiahnya. . jangan bosen-bosen ingetin ana yah…”
(hihi.. nggak ada akhwat yang ingetin anti ya ukh…?)
“Salam.. Lama nggak silaturahim, .. gimana kabarnya? Sekarang kegiatannya apa?”
(penting gitu? Siapa eloe?!)
“Add ana aja akh.. biar nambah ukhuwah… ini alamatnya……, atau kalo mau chating ini alamat YM ana…” (hadooohh… MR-nya nggak marah tuh ukh?!)
Hehe.. masih banyak lagi dah yang laennya.. di FS akhwat juga nggak jauh beda.. biasanya dengan foto kartun bergambar akhwat, kemudian ngeliat profilenya yang lebih mirip biodata untuk taaruf, sampe puisi-puisi cinta.. (haddooohh…) comment2nya pun nggak kalah vulgar dengan yang di atas… cuma bedanya yang ngirimin ya ikhwan… hohoho…. pernah saya iseng sekali2 comment ke akhwat tsb.. “hihihi… gile bener…!!! ikhwan semua tuh yang comment ukh! Mesra-mesra pula lagi! Kenapa nggak sekalian aja ajak taaruf… terus temen2 akhwatnya mana tuh ukh… lagi marahan yah? Sebenernya siapa yang salah ya? Hohoho…”
Ya Allah… begitu halusnya… hingga kita tak menyadarinya. Jangan-jangan saya dan kita mungkin sudah terjebak dalam permainan setan ini?! lambat laun karena tidak sadar, akhirnya kita telah jadi korban.
Tanpa bermaksud menuduh siapapun, tulisan ini tentunya tidak harus membuat kita berhenti terpaku tuk meneruskan berbuat kebaikan, saling menasehati, bertausyiah, berfastabiqul khoirot. Karena berhenti dan sesuatu harus bersandar pada Allah SWT. Namun sangatlah bijak, jika kita mau berhenti sejenak menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah luruskah niat kita? adakah benih karat yang mencoba menggerogoti? Kenapa tausyiah kita hanya kepada lawan jenis? Padahal masih banyak saudara2 kita sesama jenis yang butuh nasihat kita. Niat & keikhlasan seutuhnya adalah urusan makhluk dengan sang Kholik langsung, manusia lain manapun tidak mampu menilainya. Jika belum lurus, mari kita sama-sama luruskan. Jika merasa berat meluruskannya, mari sama-sama berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan lebih dan senantiasa menjauhkan kita dari keterpedayaan. Selamat membaca artikel singkat di bawah ini.
-Farizal-
Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta
Akhwat Berbicara…
Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan.
Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa. Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka.
Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta. Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.
Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)
Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi).
Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu.
Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!)
Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir).
Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana.
Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!).
Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?
Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.
Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.
Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.
Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.
Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)
Di depan tadi kita bahas apaan sih? Oh ya, ketika ikhwah jatuh cinta. Ana ga akan bahas panjang lebar karena ana tau kalian pasti akan bosan membaca celotehan ana yang “njelimet”. Tapi izinkan ana mengutip beberapa bait tulisan yang ada di majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…