“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang
isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga
memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka
Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih &
sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah
dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah
berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang
diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady
dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum
21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan,
supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat
49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu
perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra
32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang,
kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar
menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An
Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka,
bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu :
berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan
menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat)
dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah
syaithan” (HR. Abu Dawud)
Jumat, 18 November 2011
Hadits dan Ayat Alqur’an Tentang Pernikahan
Rabu, 16 November 2011
Menakjubkan: Pengobatan Melalui Al-Qur’an
|
|
Melalui
tampilan yang menakjubkan ini bersama-sama kita akan menemukan
keagungan pengobatan Al-Quran ….
|
Melalui tampilan yang
menakjubkan ini bersama-sama kita akan menemukan keagungan pengobatan
Al-Quran dengan wawasan ilmiah kontemporer, fakta-fakta yang menakjubkan
ditampilkan dalam penelitian melalui pertunjukan yang menarik dalam
bentuk Power Point ...
Abstraksi
penelitian
Penelitian ini bertujuan
untuk mengembangkan dasar ilmiah pengobatan Alquran Al-Karim dan Sunnah
nabawiyah, dan dengan demikian dapat membuktikan kelayakan memperlakukan
Al-Quran secara ilmiah dan medis. Baru-baru ini telah muncul beberapa
alternatif cara dalam melakukan apa yang dikenal
dengan pengobatan alternatif, dan salah satu dari metode ini dinamakan
secara ilmiah terapi penyembuhan melalui suara, dimana para ilmuwan
telah membuktikan bahwa setiap sel dari sel-sel otak bergetar dengan
frekuensi tertentu, dan bahwa ada program yang ketat dalam setiap sel
yang mengontrol kerjanya selama hidupnya, dan program ini
dapat terpengaruh oleh guncangan eksternal, seperti benturan
psikologis dan masalah sosial.
Oleh karena itu, sel-sel ini
ketika terkena pengaruh goncangan akan merusak aktivitas program khusus
yang mengarah pada gangguan goncangan yang beragam, dan kadang juga
dapat mengakibatkan kerusakan sistem kerja secara keseluruhan lalu muncul berbagai jenis baik penyakit mental dan dan
fisik. Para ilmuwan memastikan bahwa yang terbaik dan dapat memprogram
ulang sel-sel ini, atau dengan kata lain melakukan rebalancing dan
modifikasi goncangannya pada batasan natural karena mereka menemukan
bahwa sel yang rusak kecil kemungkinan dipengaruhi oleh getaran yang
berasal dari sel yang sehat dan bersih.
Oleh karena itu, para ilmuwan
berusaha untuk mencari getaran suara yang
mempengaruhi saat mendengarnya sel-sel yang rusak dan mengembalikan
keseimbangan padanya, proses pengujian dan experiment ilm sedang
berjalan hingga saat ini. Tetapi para ilmuwan Barat bergantung pada
terapi musik dan suara alam dan frekuensi yang tetap dan inilah yang
mereka lakukan. Lalu datang peran pengobatan melalui Al-Qur'an dan
doa-doa yang (ma’tsur) shahih, sebagaimana yang kita
ketahui bahwa suara masuk ke dalam otak melalui telinga dan suara
merupakan ungkapa dari getaran, dan ketika pasien mendengarkan bacaan
ayat-ayat Al-Quran, maka getaran yang sampai pada otaknya dan memiliki
dampak positif pada sel, dan membuatnya bergetar dengan frekuensi
getaran yang tepat sesuai dengan fitrah Allah (ciptaan Allah) Karena Al
Qur'an memiliki ciri oleh keharmonian yang unik yang tidak dari jenis
yang tidak tersedia dalam kitab lain. Allah berfirman:
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ
لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
”Maka Apakah mereka tidak
memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi
Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.
(An-Nisa: 82).
Oleh karena itu Al-Quran
merupakan sarana pengobatan yang terbaik dan termudah untuk
mengembalikan keseimbangan sel yang rusak, karena Allah Maha Kuasa yang
menciptakan sel dan Dia pula yang menitipkan di dalamnya akan program
yang detail ini, sebagaimana Dia juga tahu yang terbaiknya, dan ketika
Allah menyatakan bahwa al-Quran adalah sarana
penyembuhan
وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا
يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al
Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim
selain kerugian”. (Al-Isra: 82).
Selasa, 15 November 2011
perwujudan Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah harus diwujudkan secara nyata. Syariat telah
menjelaskan banyak sekali sikap dan perilaku sebagai perwujudannya.
Misal, sikap saling mencintai sesama Muslim. Rasul saw. bersabda:
«لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ
تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا …»
Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum
sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai … (HR
Muslim).
Kaum Muslim juga harus saling bersikap dzillah; meliputi
kasih-sayang, welas asih, dan lemah lembut (QS al-Maidah [5]: 54);
bersikap rahmah terhadap umat Islam (QS al-Fath [48]: 29); dan rendah
hati kepada kaum Mukmin (QS al-Hijr [15]: 88).
Mereka juga diperintahkan untuk tolong-menolong; membantu kebutuhan
dan menghilangkan kesusahan saudaranya; melindungi kehormatan, harta,
dan darahnya; menjaga rahasianya; menerima permintaan maafnya; dan
saling memberikan nasihat. Masih sangat banyak manfestasi ukhuwah
lainnya.
Harus dicatat, wujud ukhuwah islamiyah tidak hanya bersifat
individual, namun juga harus diwujudkan dalam tatanan kehidupan yang
dapat menjaga keberlangsungannya. Di sinilah Islam telah mewajibkan
umatnya agar hanya memiliki satu negara dan satu kepemimpinan yang
dipimpin oleh seorang khalifah. Rasulullah saw. bersabda:
«إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخَرَ
مِنْهُمَا»
Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir
dari keduanya. (HR Muslim).
Islam juga melarang setiap usaha memisahkan diri dari Khilafah.
Allah Swt. memerintahkan Khalifah untuk memerangi kaum bughat[13]
(pemberontak) hingga mereka mau kembali ke pangkuan Khilafah (QS
al-Hujurat [49]: 9). Nabi saw. pernah bersabda:
«مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ
يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ
فَاقْتُلُوهُ»
Siapa saja yang datang kepada kalian—sedangkan urusan kalian
berada di tangan seseorang (Khalifah)—lalu dia hendak memecah-belah
ikatan kesatuan dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia. (HR
Muslim dari Arfajah).
Islam menetapkan, kesatuan umat dan negara merupakan salah satu qâdhiyyah
mashiriyyah (perkara utama). Sebab, asy-Syâri‘ telah
menjadikan hidup dan mati untuk menyelesaikannya.[14]
Dengan kesatuan itu, kaum Mukmin menjadi kuat, sebagaimana sabda Rasul
saw.:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ
بَعْضًا»
Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagian
menguatkan sebagian lainnya. (HR. Bukhari, at-Tirmidzi,
an-Nasa’i dan Ahmad).
Sayang, saat kaum Muslim terbagi dalam banyak negara seperti
sekarang, mereka menjadi umat yang lemah, terpecah-belah, dan mudah
diadu-domba. Akhirnya, mereka mudah dikuasai musuh-musuh mereka.
Ukhuwah umat Islam yang centang-perenang saat ini harus segera
diakhiri. Caranya, Daulah Khilafah Islamiyah harus segera ditegakkan,
niscaya ukhuwah islamiyah pun akan nyata kembali.
Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. []
Membangun Ukhuwah Islamiyah, Menolak ‘Ashabiyyah
Jelas sekali ayat ini mewajibkan umat Islam agar bersatu dengan
akidah Islam sebagai landasan persatuan mereka. Islam menolak setiap
paham selain akidah Islam sebagai dasar persatuan. Nasionalisme,
misalnya, menurut Islam, termasuk ‘ashâbiyyah (fanatisme
golongan) yang terlarang. Rasul saw. bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ
مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى
عَصَبِيَّةٍ»
Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyyah,
yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan yang mati membela ‘ashabiyyah (HR
Abu Dawud).
Seseorang pernah bertanya kepada Rasul saw., “Apakah seseorang
mencintai kaumnya termasuk ‘ashabiyyah?” Beliau menjawab:
«لاَ، وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ
قَوْمَهُ عَلى الظُّلْمِ»
Tidak. Akan tetapi, termasuk ‘ashabiyyah jika seseorang
menolong kaumnya atas dasar kezaliman. (HR Ibnu Majah).
Nasionalisme adalah paham yang menjadikan kesamaan bangsa sebagai
dasar persatuan. Paham ini termasuk bagian dari seruan-seruan jahiliah (da‘wâ
al-jâhiliyyah). Nasionalisme menjadikan loyalitas dan pembelaan
terhadap bangsa mengalahkan loyalitas dan pembelaan terhadap Islam.
Halal-haram pun akan dikalahkan ketika bertabrakan dengan ‘kepentingan
nasional’. Akibatnya, kepentingan bangsa, meski menyalahi syariat, akan
dibela. Jelas paham ini termasuk ‘ashâbiyyah yang diharamkan
Islam.
Persaudaraan Islam yang Hakiki (Tafsir QS al-Hujurat [49]: 10)
(QS al-Hujurat [49]:
10)
]إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ[
Sesungguhnya
orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua
saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian
mendapatkan rahmat.
Ayat ini merupakan kelanjutan sekaligus penegasan perintah dalam ayat
sebelumnya untuk meng-ishlâh-kan kaum Mukmin yang bersengketa.[1] Itu
adalah solusi jika terjadi persengketaan. Namun, Islam juga memberikan
langkah-langkah untuk mencegah timbulnya persengketaan. Misal, dalam dua
ayat berikutnya, Allah Swt. melarang beberapa sikap yang dapat memicu
pertikaian, seperti saling mengolok-olok dan mencela orang lain,
panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk (QS al-Hujurat [49]:
11); banyak berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan
menggunjing saudaranya (QS al-Hujurat [49]: 12).
Tafsir Ayat
Allah Swt. berfirman: Innamâ al-Mu‘minûn ikhwah. (Sesungguhnya
orang-orang Mukmin itu bersaudara). Siapapun, asalkan Mukmin, adalah
bersaudara. Sebab, dasar ukhuwah (persaudaraan) adalah kesamaan
akidah.
Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar
kuat, lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab. Hal itu tampak
dari: Pertama, digunakannya kata ikhwah—dan kata ikhwan—yang
merupakan jamak dari kata akh[un] (saudara). Kata ikhwah
dan ikhwan dalam pemakaiannya bisa saling menggantikan.
Namun, umumnya kata ikhwah dipakai untuk menunjuk saudara
senasab, sedangkan ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat.[2]
Dengan memakai kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa
ukhuwah kaum Muslim itu lebih daripada persahabatan atau perkawanan
biasa.
Kedua, ayat ini diawali dengan kata innamâ. Meski
secara bahasa, kata innamâ tidak selalu bermakna hasyr (pembatasan),[3]
kata innamâ dalam ayat ini memberi makna hasyr.
Artinya, tidak ada persaudaraan kecuali antar sesama Mukmin, dan tidak
ada persaudaraan di antara Mukmin dan kafir.[4]
Ini mengisyaratkan bahwa ukhuwah Islam lebih kuat daripada persaudaraan
nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama.
Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.[5]
Bahkan, persaudaraan nasab dianggap tidak ada jika kosong dari
persaudaraan (akidah) Islam.[6]
Hal ini tampak, misalnya, dalam hal waris. Tidak ada hak waris
antara Mukmin dan kafir dan sebaliknya. Jika seorang Muslim meninggal
dan ia hanya memiliki saudara yang kafir, saudaranya yang kafir itu
tidak boleh mewarisi hartanya, namun harta itu menjadi milik kaum
Muslim. Sebaliknya, jika saudaranya yang kafir itu meninggal, ia tidak
boleh mewarisi harta saudaranya itu.[7]
Dalam hal kekuasaan, umat Islam tidak boleh menjadikan orang kafir
sebagai wali (pemimpin), sekalipun ia adalah bapak dan saudara mereka
(QS at-Taubah [9]: 23).
Kemudian Allah Swt. berfirman: fa ashlihû bayna akhawaykum (Karena
itu, damaikanlah kedua saudara kalian). Karena bersaudara, normal dan
alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian, dan
persatuan. Jika terjadi sengketa dan peperangan di antara mereka, itu
adalah penyimpangan, yang harus dikembalikan lagi ke keadaan normal
dengan meng-ishlâh-kan mereka yang bersengketa, yakni mengajak
mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah dan Rasul-Nya.[8]
Kata akhawaykum (kedua saudara kalian) menunjukkan jumlah
paling sedikit terjadinya persengketaan. Jika dua orang saja
yang bersengketa sudah wajib didamaikan, apalagi jika lebih dari dua
orang.[9]
Digunakannya kata akhaway (dua orang saudara) memberikan
makna, bahwa sengketa atau pertikaian di antara mereka tidak
mengeluarkan mereka dari tubuh kaum Muslim. Mereka tetap disebut
saudara. Ayat sebelumnya pun menyebut dua kelompok yang saling berperang
sebagai Mukmin. Adapun di-mudhâf-kannya kata akhaway dengan
kum (kalian, pihak yang diperintah) lebih menegaskan kewajiban
ishlâh (mendamaikan) itu sekaligus menunjukkan takhshîsh
(pengkhususan) atasnya.[10]
Artinya, segala sengketa di antara sesama Mukmin adalah persoalan
internal umat Islam, dan harus mereka selesaikan sendiri.
Perintah dalam ayat ini merupakan penyempurna perintah ayat
sebelumnya. Ayat sebelumnya mengatakan: wa in thâ’ifatâni min
al-Mu‘minîna [i]qtatalû (jika ada dua golongan dari kaum Mukmin
berperang). Kata thâ’ifatâni (dua golongan) dapat membuka celah
kesalahan persepsi, seolah ishlâh hanya diperintahkan jika dua
kelompok berperang, sedangkan jika dua orang bertikai, apalagi tidak
sampai perang ([i]qtatalû) seperti hanya saling mencaci dan
memaki, dan tidak menimbulkan kerusakan umum, tidak harus di-ishlâh.
Karena itu, firman Allah Swt. bayna akhawaykum itu menutup
celah salah persepsi itu. Jadi, meski yang bersengketa hanya dua orang
Muslim dan masih dalam taraf yang paling ringan, ishlâh harus
segera dilaksanakan.[11]
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: wa [i]ttaqû Allâh la‘allakum
turhamûn (dan
bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat). Takwa
harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlâh dan semua
perkara. Dalam melakukan ishlâh itu, kaum Mukmin harus terikat
dengan kebenaran dan keadilan; tidak berbuat zalim dan tidak condong
pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang
disejajarkan oleh Islam.[12]
Artinya, sengketa itu harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan
hukum-hukum Allah, yakni ber-tahkîm pada syariat. Dengan
begitu, mereka akan mendapat rahmat Allah Swt.
Pacaran dalam Islam
Gimana sich
sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya?
Bahaya ngga' ya ? Apa bener pacaran
itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang
bener ada pacaran
yang Islami itu, dan bagaimana kita
menyikapi hal itu?
Memiliki rasa cinta adalah fitrah
Ketika hati
udah terkena panah asmara, terjangkit
virus cinta, akibatnya...... dahsyat
man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan
inget si dia, waktu
tidur mimpi si dia. Bahkan orang
yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela
ngelakuin apa aja demi
cinta, semua dilakukan agar si dia
tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah
terpupuk, hati penuh
dengan bunga. Yang gawat lagi,
karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena
cinta diputusin bisa minum
baygon. Karena cinta ditolak ....
dukun pun ikut bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi
potensi kehidupan yang
sama, dimana potensi itu yang
kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut
pemuasan. Potensi ini sendiri
bisa kita kenal dalam dua bentuk.
Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga'
terpenuhi manusia
bakalan binasa. Inilah yang disebut
kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum,
tidur, bernafas,
buang hajat de el el. Kedua, yang
menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga'
bakalan mati, cuman
bakal gelisah (ngga' tenang) sampe'
terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan
(gharizah). Kemudian
naluri ini di bagi menjadi 3 macam
yang penting yaitu :
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Pacaran dalam perspektif islam
In fact,
pacaran merupakan wadah antara dua insan
yang kasmaran, dimana sering
cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai
pergaulan ilegal (seks).
Islam sudah jelas menyatakan:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk." (Q.
S. Al Isra' : 32)
Seringkali
sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen
yang hukumnya wajib maupun sunnah
jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i.
Pokoknya aktivitas
pacaran itu dekat banget dengan
zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak
ada legitimasi Islam
buatnya, adapun beribu atau berjuta
alasan tetep aja pacaran itu haram.
Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Jangan suka
mojok atau berduaan ditempat yang sepi,
karena yang ketiga adalah syaiton.
Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita
berkhalwat (berduaan di
tempat sepi), sebab syaiton
menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan
wanita, kecuali disertai dengan
mahramnya." (HR. Imam Bukhari
Muslim).
Dan untuk
para muslimah jangan lupa untuk menutup
aurotnya agar tidak merangsang para
lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya,
dan memelihara kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak
daripadanya. Dan hendaklah
mereka menutupkan kain kudung ke
dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur :
31).
Dan juga
sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar
memejakamkan mata dan memelihara
kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR.
Thabrany).
Yang perlu
di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan)
Allah, dimana manusia ngga' punya
andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh
yang baik menurut
Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji
adalah
buat wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan
laki-laki yang baik
adalah untuk wanita-wanita yang baik
(pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduh
itu). Bagi mereka ampunan dan rezki
yang mulia (surga)."
Wallahu A'lam bish-Showab
Wallahu A'lam bish-Showab
Islam Kok Pacaran
oleh Aliman
Syahrani
Soal pacaran
di zaman sekarang tampaknya menjadi
gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai
akibat dari pengaruh
kisah-kisah percintaan dalam roman,
novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja
memang harus
ditaburi dengan bunga-bunga
percintaan, kisah-kisah asmara ,
harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan
berbagi
rasa.
Selama ini
tempaknya belum ada pengertian baku
tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di
dalamnya akan ada suatu bentuk
pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau
lebih jauh sebenarnya pacaran
menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat
mensahkan adanya fase-fase
hubungan hetero seksual dalam
kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta
monyet), datang (kencan),
going steady (pacaran), dan
engagement (tunangan).
Bagaimanapun
mereka yang berpacaran, jika
kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri,
maka dengan tegas mereka
menolak. Namun, tidaklah demikian
jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai
alat untuk memilih
pasangan hidup. Akan tetapi
kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang
maslahatnya. Satu contoh
: orang berpacaran cenderung
mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi
hal-hal semacam melamun
atau berfantasi. Amanah untuk
belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih
mendapat kiriman dari
orang tua. Apakah uang kiriman untuk
hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar
itulah ulama memandang, bahwa
pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara
sosio kultural di kalangan
masyarakat agamis, pacaran akan
mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang
berpacaran sedikit demi
sedikit akan terkikis peresapan
ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral
dan akhlak. Na’udzubillah
min dzalik !
Sudah banyak
gambaran kehancuran moral akibat
pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science
dan peradaban modern
(westernisasi). Islam sendiri
sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi
penjelasan mengenai
berpacaran. Pacaran menurut Islam
diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila
seorang di antara kamu
meminang seorang wanita, andaikata
dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad
dan Abu
Daud).
Namun Islam
juga, jelas-jelas menyatakan bahwa
berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi
mudharatnya. Setiap orang
yang berpacaran cenderung untuk
bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at !
Terhadap larangan
melihat atau bergaul bukan muhrim
atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan
Muslim dari Ibnu Abbas
yang artinya: "Janganlah salah
seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita,
kecuali bersama dengan
muhrimnya." Tabrani dan
Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain:
"Lirikan mata merupakan
anak panah yang beracun dari setan,
barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan
menggantikannya dengan
iman sempurna hingga ia dapat
merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Tapi mungkin
juga ada di antara mereka yang
mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah
hadits Nabi SAW yang
diriwayatkan Imam Abu Daud
berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena
Allah, atawa memberi
karena Allah, dan tidak mau memberi
karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah
mereka
itu adalah orang-orang yang
mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus
(terlalu) jauh dalam mengarungi
"dunia berpacaran" mereka. Tapi kita
juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi
"perahu pacaran"
itu ? Dan jika kita kembalikan lagi
kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang
mencintai karena
Allah adalah salah satu aspek
penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu
sama lainnya benar-benar
karena Allah ? Dan bagaimana mereka
merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada
acara bonceng-boncengan,
dua-duaan, atau bahkan sampai buka
aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si
cewek, atau yang
lain-lainnya, apakah itu bisa
dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran
orang tua sangat penting dalam
mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada
pergaulan dengan lain
jenis. Adalah suatu keteledoran jika
orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya.
Oleh karena itu
sikap yang bijak bagi orang tua
kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja
laksanakan.
Rasakan 30 Macam Sambal di Waroeng SS
Jika Anda pecinta pedas belum lengkap rasanya jika belum menyambangi
Waroeng Spesial Sambal (SS). Di tempat ini Anda bisa memilih 30 jenis
sambal dengan tingkat kepedasan di atas rata-rata.
Ada sambal belut, sambal teri, sambal terasi, sambal kecap, sambal ijo, sambal bawang, sambal tomat, sambal terong, sambal bajak, sambal udang pedas, sampai sambal mangga muda.
Beberapa sambal bahkan punya “nama usil.” Seperti sambal belut yang disebut juga sambal smack down, mengingat proses penangkapan belut harus dilakukan dengan tenaga ekstra karena kulitnya yang licin dan susah ditangkap. Sambal bajak punya nama lain Sambal Teroris, sedangkan sambal rempelo ati dinamai juga Sambal Kurang Ajar karena orang yang memakannya bisa disebut “makan hati.”
Semua sambal yang berkisar antara harga Rp 1.500 – 6.000 ini terasa segar karena baru dibuat begitu dipesan. Yang paling komplit adalah sambal gobal gabul yang merupakan campuran dari beberapa macam sambal seperti sambal bajak, sambal ijo, sambal kecap, dan sambal rempelo ati.
"Dalam sehari kami butuh 4 kg cabai rawit merah (ini untuk yang pedas tak terkira), dan jenis lainnya hanya 2 kg. Untuk terasinya kami datangkan langsung dari Jawa Timur," kata Kepala Warung Special Sambal Surahman (26) ketika ditemui okezone.com (11/11/2010).
Harga untuk lauk, sayur, dan minuman pun termasuk ringan di kantong. Aneka lauk seperti belut, ayam goreng, nila, bawal, udang, cumi ditawarkan hanya Rp3.500– 30.000.
“Yang harga paling mahal untuk menu lauk sebesar Rp 30.000 adalah Gurame bakar. Menu ini baru kita keluarkan pada bulan ini,” tambahnya.
Sedangkan untuk aneka sayur seperti pecel, sayur asem, cah kangkung, plencing jawa, bisa didapatkan dengan harga Rp 2.500 – 4.500. Rasanya nggak kalah kok dengan sayur dan lauk di rumah-rumah makan Sunda yang sekarang sedang menjamur.
Setelah makan pedas enaknya minum yang dingin seperti jus. Beragam jus juga ditawarkan murah meriah Rp4.000 – Rp 6.500. Yang istimewa adalah jus gobal gabul seharga Rp 6.500 yang terbuat dari campuran alpukat, jambu, belimbing, dan pepaya. Porsi nasi putihnya yang seharga Rp 3.000 pun tidak pelit alias sedikit lebih banyak daripada porsi nasi di rumah-rumah makan lain. Jika ingin lebih puas pesan saja nasi dalam cething/bakul seharga Rp 11.000.
Warung yang pertama berdiri di Yogyakarta ini sekarang telah memiliki 33 cabang di seluruh Indonesia, sebagian berkonsep waralaba. Warung ini bisa dikenali dari logonya yang berwarna merah dengan maskot berupa orang-orangan berbentuk cabai merah besar mengenakan kaca mata. Maskot ini bernama Mr Huuh-Haah yang tak lain adalah pemilik utama Warung SS. Si pemilik membebaskan konsumennya untuk mengajukan komplain dan masukan berkaitan dengan pelayanan warungnya dengan mencantumkan nomornya pada poster yang terpajang di setiap cabang.
Jika anda tertarik untuk mencobanya datang langsung di Jalan Margonda Raya, samping Hotel bumi Wiyata, Depok. Dengan jam buka untuk weekday dari jam 11.00 WIB sampai 22.00 WIB, sedangkan untuk weekend dari jam 11.00 WIB sampai jam 23.00 WIB.
Ada sambal belut, sambal teri, sambal terasi, sambal kecap, sambal ijo, sambal bawang, sambal tomat, sambal terong, sambal bajak, sambal udang pedas, sampai sambal mangga muda.
Beberapa sambal bahkan punya “nama usil.” Seperti sambal belut yang disebut juga sambal smack down, mengingat proses penangkapan belut harus dilakukan dengan tenaga ekstra karena kulitnya yang licin dan susah ditangkap. Sambal bajak punya nama lain Sambal Teroris, sedangkan sambal rempelo ati dinamai juga Sambal Kurang Ajar karena orang yang memakannya bisa disebut “makan hati.”
Semua sambal yang berkisar antara harga Rp 1.500 – 6.000 ini terasa segar karena baru dibuat begitu dipesan. Yang paling komplit adalah sambal gobal gabul yang merupakan campuran dari beberapa macam sambal seperti sambal bajak, sambal ijo, sambal kecap, dan sambal rempelo ati.
"Dalam sehari kami butuh 4 kg cabai rawit merah (ini untuk yang pedas tak terkira), dan jenis lainnya hanya 2 kg. Untuk terasinya kami datangkan langsung dari Jawa Timur," kata Kepala Warung Special Sambal Surahman (26) ketika ditemui okezone.com (11/11/2010).
Harga untuk lauk, sayur, dan minuman pun termasuk ringan di kantong. Aneka lauk seperti belut, ayam goreng, nila, bawal, udang, cumi ditawarkan hanya Rp3.500– 30.000.
“Yang harga paling mahal untuk menu lauk sebesar Rp 30.000 adalah Gurame bakar. Menu ini baru kita keluarkan pada bulan ini,” tambahnya.
Sedangkan untuk aneka sayur seperti pecel, sayur asem, cah kangkung, plencing jawa, bisa didapatkan dengan harga Rp 2.500 – 4.500. Rasanya nggak kalah kok dengan sayur dan lauk di rumah-rumah makan Sunda yang sekarang sedang menjamur.
Setelah makan pedas enaknya minum yang dingin seperti jus. Beragam jus juga ditawarkan murah meriah Rp4.000 – Rp 6.500. Yang istimewa adalah jus gobal gabul seharga Rp 6.500 yang terbuat dari campuran alpukat, jambu, belimbing, dan pepaya. Porsi nasi putihnya yang seharga Rp 3.000 pun tidak pelit alias sedikit lebih banyak daripada porsi nasi di rumah-rumah makan lain. Jika ingin lebih puas pesan saja nasi dalam cething/bakul seharga Rp 11.000.
Warung yang pertama berdiri di Yogyakarta ini sekarang telah memiliki 33 cabang di seluruh Indonesia, sebagian berkonsep waralaba. Warung ini bisa dikenali dari logonya yang berwarna merah dengan maskot berupa orang-orangan berbentuk cabai merah besar mengenakan kaca mata. Maskot ini bernama Mr Huuh-Haah yang tak lain adalah pemilik utama Warung SS. Si pemilik membebaskan konsumennya untuk mengajukan komplain dan masukan berkaitan dengan pelayanan warungnya dengan mencantumkan nomornya pada poster yang terpajang di setiap cabang.
Jika anda tertarik untuk mencobanya datang langsung di Jalan Margonda Raya, samping Hotel bumi Wiyata, Depok. Dengan jam buka untuk weekday dari jam 11.00 WIB sampai 22.00 WIB, sedangkan untuk weekend dari jam 11.00 WIB sampai jam 23.00 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)